Written By administrator | 2009-12-11 | Hit 322 kali
Demokrasi yang Perlu Dievaluasi
Waktu
terasa berhenti di perpustakaan Fadli Zon. Buku dari Georgius
Everhardus Rumphius tentang flora di Ambon dengan tahun cetak 1747
membuka diskusi tentang kekayaan bangsa. Obrolan dilanjutkan dengan
buku Von Stockum Traveller’s Hand Book Dutch Netherlands Indie, yang
walaupun terbit tahun 1930, dengan presisi mencatat jadwal serta harga
tiket trem.
Bayangkan, dahulu di zaman penjajahan, jadwal sudah teratur,” kata Fadli Zon.
Obrolan
berlanjut ke ruang paling atas, tempat Fadli memperdengarkan lagu
ciptaan Presiden Soekarno tahun 1965 berjudul ”Mari Kita Bersukaria”.
”Jadi, biasa itu Presiden bikin lagu. Waktu itu zaman lagi susah.
Presiden Soekarno bikin lagu yang riang gembira,” katanya.
Sambil
menyantap gado-gado favoritnya, Kompas mulai mewawancarai Fadli. ”Saya
tahun ini 38 tahun. Saya nggak merasa muda lagi. Sudirman jadi jenderal
umur 32, Syahrir perdana menteri umur 36, Sumitro Djojohadikusumo
menjadi menteri juga usia 32,” kata pria yang lahir di Jakarta, 1 Juni
1971, ini.
Bagaimana Anda melihat politik Indonesia lima tahun ke depan?
Saat
ini masalahnya menyangkut identitas dan jati diri bangsa. Belum
terbentuk character and nation building. Kita masih gamang. Pembangunan
dan demokrasi kita tidak jelas ke mana. Demokrasi
liberal belum tentu cocok buat kita. Yang kita alami, anarki politik.
Transisi demokrasi kita seperti pendulum dari kerangkeng menuju ke
kebebasan yang liar. Kita belum temukan format yang baik untuk bangsa.
Bung
Karno dan Bung Hatta visioner. Mereka mengalami periode pertarungan
ideologi, komunisme, dan kapitalisme, namun kemudian memilih ideologi
yang local genius Indonesia. Ekonomi kita koperasi dengan adanya badan
usaha negara yang kuat dan sektor swasta.
Bagaimana character building kita saat ini?
Saat
ini politisi kita kebanyakan tak ada karakternya. Jadi, semuanya bisa
diatur. Yang penting menguntungkan. Salah satu pemimpin yang kokoh itu
Megawati Soekarnoputri. Ia kalau mengambil keputusan tidak bisa diubah.
Kebanyakan kita negotiable. Padahal, masalahnya prinsip. Politisi kita
takut miskin.
Rakyat sudah memilih Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY). Seharusnya SBY bisa mengubah style-nya. Bisakah dia menjadi
pemimpin yang visioner dan inspiratif, membangun. Kita butuh pemimpin
yang solidarity maker, bisa menggerakkan rakyat. Adalah hak rakyat
mendapatkan penghidupan yang layak, pekerjaan, pendidikan, dan
kehidupan yang baik.
Kita ingin melakukan demokrasi, kan?
Demokrasi
untuk demokrasi atau untuk kesejahteraan? Waktu saya studi development
studies, tidak ada negara yang karena demokrasi jadi makmur.
Jadi, kita meningkatkan kesejahteraan baru demokrasi?
Demokrasi
yang seperti apa? Demokrasi harus sesuai dengan jati diri kita.
Sekarang malah demokrasi kita lebih liberal daripada Amerika Serikat
(AS). Desentralisasi kita juga tidak memikirkan lagi masalah efisiensi.
Desentralisasi dilakukan saat kita krisis. Padahal, di mana pun,
desentralisasi dilakukan dalam keadaan stabil dulu. Yang terjadi
sekarang desentralisasi korupsi dan pemborosan.
Jadi, kita harus mulai dari mana?
Ideologi
pembangunan dan ekonomi kita harus jelas dulu. Apa kita mau tetap pakai
paham neoliberalisme atau kita koreksi dan kembali ke ekonomi
kerakyatan. Misalnya dalam masalah perdagangan. Kalau kita dalam
keadaan lemah, common sense saja kita harus melindungi. Kita malah
terbuka pada free trade. Seharusnya kita proteksi dan promosi dulu.
Setelah kuat, baru ekspansi. Di WTO, kita ikuti keinginan negara besar
karena kita ingin diperlakukan seperti negara besar. Akibatnya kita
jadi melupakan kepentingan rakyat. Inti masalahnya adalah national
interest kita apa.
Kita impor cabai sampai garam. Padahal, laut
kita luas sekali. Kita akhirnya jadi kuli di negeri sendiri. Tidak mau
menghasilkan value added.
Maksud Anda, kita harus kembali ke otoritarian?
Demokrasi
yang sekarang harus kita evaluasi. Sekarang kita euforia. Kita bangga
disebut sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Padahal,
kita harus belajar. Dari China, misalnya, bisa sejahtera dengan
penduduk di atas satu miliar jiwa. Kita, kan, ingin sejahtera, bukan
ingin sekadar jadi demokrasi. Kita ingin makmur. Demokrasi seharusnya
mengarah ke kemakmuran. Demokrasi macam apa yang mengarah ke situ. Apa
demokrasi liberal? Pemilu kepala daerah (pilkada) yang ratusan jumlahnya dan pemilu presiden yang jorjoran. Menurut saya, kita terlalu banyak buang waktu dan tenaga.
Apa ini berkaitan dengan kepemimpinan?
Kita
perlu demokrasi agak terpimpin. Bukan terpimpin seperti Bung Karno
dulu. Tetapi, ada keterpemimpinan dari figur. Kalau ada pemimpin yang
berani, tegas, berani melakukan terobosan, termasuk dalam berinisiatif
membuat aturan. Pemimpin yang berani untuk mengambil risiko. Sekarang
kebanyakan kita ini politisi, bukan negarawan.
Politisi hanya memikirkan jangka pendek. Jiwa kenegaraan ini harus dimulai.
Apakah sistem partai politik saat ini tidak berpihak menaikkan kader muda potensial?
Saat
ini seperti urut kacang. Lebih memerhatikan senioritas. Sekarang ini
semua diatur dengan kekuatan materi, bukan kesempatan terbuka.
Misalnya, mau masuk di parpol, mau jadi calon anggota legislatif
(caleg) dengan nomor urut satu harus ada kontribusi sekian. Itu baru
level politik yang paling bawah. Iklim kita masih jauh karena
orientasinya bukan melayani rakyat, melainkan masih dalam taraf
memperbaiki tingkat hidup. Politik itu masih menjadi pekerjaan, bukan
lahan pengabdian.
Selama ini kenapa terlibat di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)?
Sebenarnya
saya orang yang muak dengan politik. Tetapi, seperti dikatakan Edmund
Burke (politisi Irlandia), ”The only thing necessary for the triumph of
evil is for good men to do nothing.” Sekarang banyak orang baik yang
tidak mau karena politik kotor dan menjijikkan. Dan, saya merasakan,
dari hari-hari ini pun terasa intrik politik, fitnah-memfitnah. Tetapi,
kalau orang baik itu stay away, yang menguasai nantinya preman politik.
Padahal, politik yang menentukan policy semuanya, pendidikan, ekonomi,
kebudayaan.
Saya yang mengusulkan untuk bikin partai politik di
HKTI sebagai alat perjuangan. Banyak dorongan dari Kontak Tani Nelayan
Andalan (KTNA) dan HKTI. Saya lalu ngomong dengan Pak Hasyim (Hasyim
Djojohadikusumo). Lahir Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya).
Bagaimana dengan kepemimpinan nasional saat ini?
Pertanyaan
bagi siapa pun yang memimpin, dia mau bawa ke mana Indonesia ini. Dari
sana seharusnya orientasi difokuskan. Misalnya, menyikapi globalisasi.
Bagaimana strategi kita menghadapi globalisasi yang bermuatan
neoliberal yang sangat merusak kita. Kita seperti tetap berputar-putar,
sementara negara lain, seperti Vietnam dan China, mau terus.
Masih adakah harapan?
DPR
bisa melakukan fungsi, tak hanya dengan standar. DPR harus bisa
mengoreksi berbagai undang-udang yang membuat kita terjebak, misalnya
UU Migas dan UU Penanaman Modal. Kita harus kembalikan pada kekuatan
modal dalam negeri.